Sunday, September 21, 2008

Thanks to Facebook (baca:Fesbuk)


Ini contoh nyata event yang dibantu sama Social Media bernama Facebook, kemarin ada acara Bukabareng dan sekalian jadi acara reunian buat anak2 SD-SMP TJS di Hema, Bekasi Square. Dulu waktu pertama kemunculan si Facebook (baca:Fesbuk) saya jelaz menganggap social media tersebut masih memiliki banyak kekurangan di bandingkan Friendster/MySpace. Eh, kenapa tiba'' saat ini yang paling sering diupdate malah Fesbuk? Keunggulan dari facebook yang saya temukan adalah sistem Notificationya yang komprehensif namun tetap memberikan kenyamanan bagi penggunanya. Sistem 'Real Identity' juga kerap menjadi andalan Facebook dalam menghubungkan kesamaan identitas/pengalaman hidup bagi masing-masing usernya.

Friday, September 19, 2008

Generation C


Wuih sekarang lagi semangat''nya ngomongin generasi C, generasi yang disebut-sebut sebagai generasi yang memegang kekuatan dunia saat ini (kereen). C disini dideskripsikan banyak hal bisa berupa Click, Communication, Community, Collaboration, Conversation, Content dan C'' lainya yang jelas bukan vitamin C. Saya baca'' sih kalo generasi C ini merupakan awal dari datangnya generasi V, alias generasi virtual, banyak yang percaya kalo segala urusan kehidupan kita cukup bisa dilakukan secara virtual, contohnya ada Virtual Office, Virtual Friends dan lain-lain.

Hal tersebut bukanlah tanpa alasan, coba aja kita liat secondlife.com dimana banyak orang-orang diseluruh dunia ini bertemu di dalam dunia virtual mirip seperti game The Sims yang terkenal itu. Konsep virtual Life tersebut juga kerap dijadikan ajang kesempatan bisnis bagi para pemilik brand atau perusahaan agar lebih dekat dengan para konsumen dan para stakeholder mereka lainnya.

Generasi C ini ada karena munculnya fenomena Web 2.0 yang digadang-gadang sebagai pijakan lahirnya Mass Social Media (baca: Friendster, Facebook dll) yang melahirkan para generasi C ini. Situs2 social media menjadi ajang berkumpul bagi seluruh manusia di dunia. Mereka tidak hanya sekedar berkenalan dan mengobrol tapi juga menggerakan suatu perubahan, sebuah perubahan manusia dalam bekerja, bermain dan belajar dengan cara yang tidak pernah dipikirkan oleh manusia sebelumnya. Saya sendir lebih bangga dan senang melihat Generasi C ini sebagai generasi Change/ Change Agents. Selamat Datang Generasi yang membawa Perubahan :)

Friday, August 22, 2008

Iklan Politik, Menarik atau Menyebalkan?


Memang bahasan kampanye Politik paling seru akhir-akhir ini, ada yang jor-joran menggunakan Iklan di media massa baik di TV maupun di harian berita nasional karena modalny besar ada juga yang seadany dengan mengunakan poster, banner, sticker dan lainya. Tapi apapun Toolsnya seharusnya yang paling dipikirkan adalah measurement itu sendiri, apakah dengan iklan yang secara terus-terusan nongol dan menyentuh hati benar-benar bisa merubah persepsi masyarakat itu sendiri. Saya sendiri meragukan.

Coba deh liat Sloganya Tje Fuk " Memberi Bukti, Bukan Janji", sepertiny bisa menjadi bahan pertimbangan untuk para politisi dalam aktifitas kampanye politiknya. Daripada "memaksakan" diri sering-sering nongol di tv dengan membangun image "Pilih lah saya, karena saya hebat" yang menggangu acara tv, lebih baik terjun langsung ke masyarakat memberikan program nyata dengan budgetnya tersebut. Toh, hal tersebut bisa saja menghasilkan effect word of mouth yang berarti kampanye juga bagi politisi tersebut.

Bagi saya semenarik apapun sebuah iklan politik tetap saja tidak bisa merubah persepsi saya pada seorang tokoh, kecuali ia memang benar-benar telah berjasa melakukan prestasi terhadap bangsa ini. Saya butuh bukti bukan janji ataupun Slogan. Politisi harus bertindak bukan hanya menyemangati untuk bertindak.

Tuesday, August 19, 2008

Bandung, 16 Agustus 2008

Tepat hari ini 63 tahun yang lalu bisa jadi saat terpenting bagi tanah air tercinta. Golongan muda mendesak para golongan tua (Soekarno-Hatta) untuk memproklamirkan kemerdekaan. Mungkin memang sudah kodratny golongan tua memiliki perbedaan dengan apa yang dipikirkan oleh golongan muda. Ini menarik apabila dihubungkan dengan isu golongan muda yang dijagokan untuk menjadi Presiden pada pemilu 2009 nanti. Sejarah telah membuktikan bahwa golongan muda sebagai sebuah Change Agent bagi negara ini, coba apa jadinya apabila peristiwa Rengasdengklok tidak pernah terjadi. Akankah kita dapat menikmati nikmat kemerdekaan yang kita rasakan saat ini? Tanpa mengecilkan para golongan tua, seharusny golongan muda diberikan peluang dan wadah yang besar di pemerintahan kita.

Restrukturisasi di badan pemerintahan dengan mengandalkan golongan muda bukan tidak mungkin akan menghasilkan sesuatu yang signifikan bagi bangsa ini. Sungguh ini tidak melulu membanggakan golongan muda namun lebih kepada melihat realita dimana yang muda selalu di pandang sebelah mata. Saya memiliki optimisme bahwa sinergi yang telah membawa kesuksesan pada masa lampau dapat juga dihasilkan pada masa sekarang. Siapa pun Presiden Indonesia pada saat mendatang hendaknya kabinetnya terdiri atas golongan tu dan muda yang dapat bekerjasama demi keutuhan bangsa ini. Selamat Ulang Tahun Indonesiaku yang ke 63.

Tuesday, August 5, 2008

The Effectiveness of Artists for Political Campaign

Fenomena artis alih profesi menjadi politisi di republik ini mengundang berbagai pertanyaan. Apakah artis mampu memimpin suatu badan negara dengan baik? atau apakah hanya menjual nama saja untuk menarik sejumlah voter demi kepentingan partai?. Ada bantahan juga dari pihak artist bahwa mereka sebagai pekerja seni juga memiliki kapabilitas yang cukup untuk menjadi pemimpin. Beberapa artis yang mencalonkan diri sebagai politisi ada yang gagal dan ada yang pula yang sukses seperti Dede Yusuf. Kampanye politik sebagai bentuk aktifitas komunikasi politik kini menjadi kian beragam dari sisi hal endorsment (artis) dan Media seperti penggunaan website/blog.

Adapun 5 pendekatan komunikasi politik yang penting dilakukan menurut James Chesebro :
  1. Machiavellian - ie power relationships.
  2. Iconic - symbols very important.
  3. Ritualistic - Redundant and superficial nature of political acts - manipulation of symbols.
  4. Confirmation - political aspects looked at as people we endorse.
  5. Dramatistic - politics is symbolically constructed.
Artist dapat termasuk dalam kategori kedua yaitu Iconic. Artis sebagai public figure tentunya memiliki awareness yang tinggi di masyarakat sehingga pantas menjadi suatu ikon penting dalam tubuh partai guna memnagkan kampanye. Saya sendiri setuju saja dengan kehadiran artis meramaikan di ranah politik karena kalo dibilang artis tidak memiliki pengetahuan yang cukup toh mengapa orang-orang sebelumnya yang telah diberikan kesempatan memimpin juga tidak memberikan perubahan yang cukup berarti. Artis yang saat ini sedang semangat di dunia politik boleh-boleh saja mencalonkan diri asalkan mau dibarengi oleh usaha keras untuk belajar dan yang terpenting mau "Meninggalkan" segalal gemerlap dunia keartisan, Apakah Sanggup untuk itu?? karena setelah menjadi pemimpin, para artis tersebut akan memiliki tanggung jawab besar untuk melayani rakyat dan menjadi teladan bagi rakyat.

Tuesday, July 22, 2008

Marketing and PR Evolution

Ketika SMP saya bercita-cita kelak suatu hari nanti akan menjadi dokter, maka pelajaran yang paling saya geluti waktu itu adalah Biologi. Di dalam mata pelajaran tersebut pasti semua orang akan tertarik dengan teori darwin tentang evolusi manusia yang kalo diurut-urut ternyata kita ini tadinya monyet ( saya sendiri jelaz gak setuju, siapa juga yang maw disamain sama Monyet hehe).

Evolusi secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu perubahan dengan jangka waktu yang cukup lama. Dan ternyata teori evolusi pun berlaku pada bidang ilmu Marketing dan PR. Di sebuah majalah saya pernah membaca artikel karya Sumardy (The owner of Marketing Club) disitu disebutkan ada 3 tahapan evolusi yang dialami oleh Marketing. Tahap awal Marketing diawali dengan era-era berikut ini:

  1. Functional Marketing, pada era ini kegiatan marketing sangat berorientasi pada kegunaan 'mentok' dari suatu produk itu sendiri. Mobil ya buat transportasi, kedai kopi ya emang buat minum kopi, baju ya buat dipake biar ga kedinginan. Jadi peduli apapun mereknya yang terpenting adalah kemampuan dari sebuah produk dalam memenuhi kebutuhan manusia tertentu.
  2. Emotional Marketing/Experiential Marketing, pada era ini sebuah merek telah dielu-elukan oleh pelanggan dan merek telah menjadi senjata ampuh dalam menjual sebuah produk. Mahal dikit gpp yang penting ada gengsi dan ada pengalaman tersendiri yang dialami oleh pelanggan dan merek itu sendiri.
  3. Participative Marketing, Inilah era marketing yang saat ini kita sedang rasakan dimana produk yang kita inginkan dapat dibentuk dan didesain sesuai yang kita benar-benar inginkan. Adanya aktualisasi diri bagi pelanggan dari produk yang telah di-Customized/Personalized . Hal ini yang memberi tanda apakah pemasaran masih dibutuhkan karena pelanggan kini tidak lagi menjadi objek namun telah menjadi subjek yang aktif dalam kegiatan marketing itu sendiri.
3 era diatas merupakan evolusi dari Marketing, nah bagaimana dengan PR? tentunya PR juga telah mengalami proses evolusi itu sendiri sesuai dengan perkembangan industri dan teknologi yang telah dialami juga oleh marketing. Dari buku effective PR karangan Cutlip ditemukan bahwa ada juga 3 era yang dialami oleh PR yaitu:

  1. Era Penginformasian Publik, Era ini PR hanya berfungsi sebagai pemberi berita kepada publik. Teknik PR pada saat itu hanyalah membuat suatu pesan/berita kepada publik dengan tujuan untuk menginformasikan
  2. Era Saling Pengertian, PR pada era ini mengalami perkembangan, yang tadinya hanya menginformasikan publik dengan berita-berita pada era ini PR dengan melakukan research berusaha mengerti apa sih yang publik butuhkan saat ini, jadi tidak lagi berorientasi pada produk berita namun lebih berorientasi pada kebutuhan dan keinginan dari publik itu sendiri
  3. Era Saling Menyesuaikan, Era yang hingga saat ini kita alami ini menandakan bahwa PR akan selalu dibutuhkan oleh semua perusahaan, Mengapa? Karena tidak peduli seberapa kuat dan cepat sebuah perusahaan tetapi apabila perusahaan tersebut tidak adaptive terdapat perubahan teknologi, lanskap bisnis, kebutuhan konsumen dan lain-lain maka perusahaan / organisasi tersebut tidak akan dapat survive. Nah PR pada era sekarang sangat dituntut untuk dapat menyesuaikan terhadap berbagai perubahan zaman sehingga apa yang dilakukan oleh perusahaan/organisasi dapat diterima oleh khalayak luas.
Dua ulasan evolusi singkat tersebut setidaknya dapat menggambarkan bahwa segala hal melakukan berbagai bentuk perubahan. Ini juga merupakan tantangan bagaimana kita generasi muda PR dapat menyesuaikan terhadap era-era baru yang mungkin akan kita alami juga.

Are you ready??

Monday, May 19, 2008

100 tahun Kebangkitan Nasional : Hakiki atau Seremoni

Lahirnya Budi Oetomo merupakan tonggak sejarah dimana bangsa kita ketika itu memiliki visi untuk bangkit dari keterpurukan karena selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa Belanda. Budi Oetomo yang berawal dari diskusi-diskusi mahasiswa, merupakan tahap transisi perjuangan bangsa indonesia dari perjuangan fisik ke perjuangan diplomasi. Bangsa kita pada waktu itu sadar bahwa perjuangan fisik yang menggunakan otot seperti perang tidak menghasilkan kemerdekaan. Dengan demikian terbentuknya Budi Oetomo menjadi pertanda kebangkitan bangsa dari kebodohan menuju era yang lebih baik dengan menggunakan "kendaraan" baru yang disebut pendidikan.

Kembali ke masa sekarang, momentum 100 tahun kebangkitan nasional saat ini menjadi perhatian utama hampir dari semua media. Berbagai program, acara, liputan dan artikel menyuarakan semangat nasionalisme terkait dengan 100 tahunya kebangkitan nasional. Permasalahan ekonomi seperti kemiskinan sepertinya tidak pernah mau lepas dari kehidupan bangsa ini. Ironisnya, pemerintah pada akhir Mei ini berencana untuk menaikan harga BBM yang sungguh menyakitkan bagi warga negara indonesia yang mayoritas berada pada kelas ekonomi menengah-bawah.

Penulis sangat meyakini bahwa berbagai keterpurukan yang terjadi baik pada masa lalu dan masa saat ini adalah lemahnya sistem pendidikan yang dimiliki oleh bangsa ini. Inti permasalahan juga tidak pernah beranjak dari birokrasi dan KKN yang dilakukan oleh oknum pemerintah. Dana BOS yang ditujukan kepada warga yang tidak mampu masih belum menampakan hasil yang baik. Penghargaan terhadap profesi guru dinilai masih sangat rendah. Bagaimana guru dapat memberikan yang terbaik untuk muridnya apabila ia masih dihadapkan permasalahan untuk dapat mencari sesuap nasi.

Sudah seharusnya momentum yang baik ini tidak hanya berupa seremoni panjang yang kita lakukan disetiap tahun tanpa menghasilkan sesuatu. Dengan semanagat nasionalisme yang kerap dilantangkan pada akhir-akhir ini seharusnya tidak begitu saja padam tanpa menghasilkan sesuatu bagi bangsa ini. Penulis percaya bangsa ini memiliki generasi muda yang cerdas dan kreatif dalam menghasilkan sebuah karya terutama di bidang pendidikan.
Maju Generasi Muda, Maju Indonesia-KU :)



Sunday, May 11, 2008

Creative Communications Builder


Memang hingga saat ini saya belum menyandang gelar sarjana komunikasi, namun pengalaman di dunia praktis beberapa bulan ini memberikan suatu framework tentang bagaimana proses kreatif menjadi sebuah nilai penting di dalam praktek komunikasi. Adalah Peter Fisk, penulis dari buku Marketing Genius yang menjelaskan 2 ciri dari seorang marketer yang genius. Ciri pertama adalah faktor Intelegensi, dimana pemikiran yang sistematis dan konseptual memberikan seorang marketer suatu kerangka kerja bagaimana dalam menganalisa sebuah riset pasar / brief dari client. Ciri kedua adalah kreatifitas, yang menciptakan berbagai macam kampanye PR / Marketing Communication yang bermacam-macam. Proses kreatif bisa dilakukan oleh perseorangan ataupun dengan kelompok. Biasanya cara menemukan suatu ide kreatif dengan melakukan Brainstorming.
Aktifitas yang menarik dilakukan bagi saya. Sebuah ide diciptakan dari pikiran yang fresh, yang tidak dipungkiri dipengaruhi oleh seberapa luas wawasan dari individu yang mencari ide kreatif tersebut. Berbagai macam agency komunikasi bermunculan, nampaknya industri ini makin berkembang seiring meningkatnya teknologi informasi dan komunikasi. Baik itu agency Marketing, Advertising ataupun PR, sangat lah membutuhkan ide-ide segar yang 'Menjual'. Menjual disini berarti tidak hanya kreatif, tapi juga bisa diimplementasikan dengan baik pada saat eksekusinya. Sungguh pengalaman yang sangat menantang bagi siapa pun yang bekerja di agency. Pada akhirnya, saya menarik kesimpulan bahwa sebuah agency komunikasi haruslah menjadi sebuah komunitas/kelompok pencipta komunikasi yang kreatif.

Saturday, April 12, 2008

Let's Make It Happen!


Judul diatas adalah tema Training yang diselenggarakan oleh perusahaan ditempat saya bekerja kemarin. Bertempat di Grand Flora Kemang, acara training difasilitasi oleh Ibu Maria Sidabutar, seorang praktisi PR yang memiliki banyak sekali pengalaman di industri PR, baik itu di agency atau di corporate(Terima kasih banyak Bu untuk Ilmu yang telah diberikan). Acara diwali dengan berbagai teori dasar PR serta diberikan contoh praktis dalam kehidupan nyata. Sangat baik dijelaskan mengapa perusahaan membutuhkan PR untuk membantu management dalam mencapai objective dari perusahaan.

Pada sesi ke-2, kami dibentuk dalam beberapa kelompok dan diharuskan menganalisa sebuah study case yang nantinya harus membuat sebuah proposal PR sebagai tindak lanjut dari study case tersebut. Tidak diragukan lagi, aktifitas tersebut menguras konsentrasi untuk mencari sebuah PR campaign yang OutOfTheBox namun eksekusinya InsideTheBox, itu yang menjadi tantangan bagi setiap kelompok. Saya sendiri waktu itu memberanikan untuk mempresentasikan proposal yang telah dibuat oelh kelompok. cukup nerves. namun, lega setelah melakukan presentasi tersebut di depan teman-teman kantor saya untuk pertama kalinya.

Pada sesi terakhir, kita diajarkan tentang teknik Writing of PR, sudaj jelas menulis adalah sebuah keahlian dasar yang diperlukan oleh seorang yang mendalami profesi PR. Karya tulisan dari seorang PR tentu berbeda dengan seorang jurnalis, memang ada beberapa kemiripan namun ada perbedaanya. karena seorang konsultant PR harus menulis berdsarkan keinginan klien dengan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti bagi pembacanya, sedangkan jurnalis bebas menulis dan tergantung dari karakteristik masing-masing media. Acara ditutup dengan makan malam.