Tuesday, August 5, 2008

The Effectiveness of Artists for Political Campaign

Fenomena artis alih profesi menjadi politisi di republik ini mengundang berbagai pertanyaan. Apakah artis mampu memimpin suatu badan negara dengan baik? atau apakah hanya menjual nama saja untuk menarik sejumlah voter demi kepentingan partai?. Ada bantahan juga dari pihak artist bahwa mereka sebagai pekerja seni juga memiliki kapabilitas yang cukup untuk menjadi pemimpin. Beberapa artis yang mencalonkan diri sebagai politisi ada yang gagal dan ada yang pula yang sukses seperti Dede Yusuf. Kampanye politik sebagai bentuk aktifitas komunikasi politik kini menjadi kian beragam dari sisi hal endorsment (artis) dan Media seperti penggunaan website/blog.

Adapun 5 pendekatan komunikasi politik yang penting dilakukan menurut James Chesebro :
  1. Machiavellian - ie power relationships.
  2. Iconic - symbols very important.
  3. Ritualistic - Redundant and superficial nature of political acts - manipulation of symbols.
  4. Confirmation - political aspects looked at as people we endorse.
  5. Dramatistic - politics is symbolically constructed.
Artist dapat termasuk dalam kategori kedua yaitu Iconic. Artis sebagai public figure tentunya memiliki awareness yang tinggi di masyarakat sehingga pantas menjadi suatu ikon penting dalam tubuh partai guna memnagkan kampanye. Saya sendiri setuju saja dengan kehadiran artis meramaikan di ranah politik karena kalo dibilang artis tidak memiliki pengetahuan yang cukup toh mengapa orang-orang sebelumnya yang telah diberikan kesempatan memimpin juga tidak memberikan perubahan yang cukup berarti. Artis yang saat ini sedang semangat di dunia politik boleh-boleh saja mencalonkan diri asalkan mau dibarengi oleh usaha keras untuk belajar dan yang terpenting mau "Meninggalkan" segalal gemerlap dunia keartisan, Apakah Sanggup untuk itu?? karena setelah menjadi pemimpin, para artis tersebut akan memiliki tanggung jawab besar untuk melayani rakyat dan menjadi teladan bagi rakyat.

Tuesday, July 22, 2008

Marketing and PR Evolution

Ketika SMP saya bercita-cita kelak suatu hari nanti akan menjadi dokter, maka pelajaran yang paling saya geluti waktu itu adalah Biologi. Di dalam mata pelajaran tersebut pasti semua orang akan tertarik dengan teori darwin tentang evolusi manusia yang kalo diurut-urut ternyata kita ini tadinya monyet ( saya sendiri jelaz gak setuju, siapa juga yang maw disamain sama Monyet hehe).

Evolusi secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu perubahan dengan jangka waktu yang cukup lama. Dan ternyata teori evolusi pun berlaku pada bidang ilmu Marketing dan PR. Di sebuah majalah saya pernah membaca artikel karya Sumardy (The owner of Marketing Club) disitu disebutkan ada 3 tahapan evolusi yang dialami oleh Marketing. Tahap awal Marketing diawali dengan era-era berikut ini:

  1. Functional Marketing, pada era ini kegiatan marketing sangat berorientasi pada kegunaan 'mentok' dari suatu produk itu sendiri. Mobil ya buat transportasi, kedai kopi ya emang buat minum kopi, baju ya buat dipake biar ga kedinginan. Jadi peduli apapun mereknya yang terpenting adalah kemampuan dari sebuah produk dalam memenuhi kebutuhan manusia tertentu.
  2. Emotional Marketing/Experiential Marketing, pada era ini sebuah merek telah dielu-elukan oleh pelanggan dan merek telah menjadi senjata ampuh dalam menjual sebuah produk. Mahal dikit gpp yang penting ada gengsi dan ada pengalaman tersendiri yang dialami oleh pelanggan dan merek itu sendiri.
  3. Participative Marketing, Inilah era marketing yang saat ini kita sedang rasakan dimana produk yang kita inginkan dapat dibentuk dan didesain sesuai yang kita benar-benar inginkan. Adanya aktualisasi diri bagi pelanggan dari produk yang telah di-Customized/Personalized . Hal ini yang memberi tanda apakah pemasaran masih dibutuhkan karena pelanggan kini tidak lagi menjadi objek namun telah menjadi subjek yang aktif dalam kegiatan marketing itu sendiri.
3 era diatas merupakan evolusi dari Marketing, nah bagaimana dengan PR? tentunya PR juga telah mengalami proses evolusi itu sendiri sesuai dengan perkembangan industri dan teknologi yang telah dialami juga oleh marketing. Dari buku effective PR karangan Cutlip ditemukan bahwa ada juga 3 era yang dialami oleh PR yaitu:

  1. Era Penginformasian Publik, Era ini PR hanya berfungsi sebagai pemberi berita kepada publik. Teknik PR pada saat itu hanyalah membuat suatu pesan/berita kepada publik dengan tujuan untuk menginformasikan
  2. Era Saling Pengertian, PR pada era ini mengalami perkembangan, yang tadinya hanya menginformasikan publik dengan berita-berita pada era ini PR dengan melakukan research berusaha mengerti apa sih yang publik butuhkan saat ini, jadi tidak lagi berorientasi pada produk berita namun lebih berorientasi pada kebutuhan dan keinginan dari publik itu sendiri
  3. Era Saling Menyesuaikan, Era yang hingga saat ini kita alami ini menandakan bahwa PR akan selalu dibutuhkan oleh semua perusahaan, Mengapa? Karena tidak peduli seberapa kuat dan cepat sebuah perusahaan tetapi apabila perusahaan tersebut tidak adaptive terdapat perubahan teknologi, lanskap bisnis, kebutuhan konsumen dan lain-lain maka perusahaan / organisasi tersebut tidak akan dapat survive. Nah PR pada era sekarang sangat dituntut untuk dapat menyesuaikan terhadap berbagai perubahan zaman sehingga apa yang dilakukan oleh perusahaan/organisasi dapat diterima oleh khalayak luas.
Dua ulasan evolusi singkat tersebut setidaknya dapat menggambarkan bahwa segala hal melakukan berbagai bentuk perubahan. Ini juga merupakan tantangan bagaimana kita generasi muda PR dapat menyesuaikan terhadap era-era baru yang mungkin akan kita alami juga.

Are you ready??

Monday, May 19, 2008

100 tahun Kebangkitan Nasional : Hakiki atau Seremoni

Lahirnya Budi Oetomo merupakan tonggak sejarah dimana bangsa kita ketika itu memiliki visi untuk bangkit dari keterpurukan karena selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa Belanda. Budi Oetomo yang berawal dari diskusi-diskusi mahasiswa, merupakan tahap transisi perjuangan bangsa indonesia dari perjuangan fisik ke perjuangan diplomasi. Bangsa kita pada waktu itu sadar bahwa perjuangan fisik yang menggunakan otot seperti perang tidak menghasilkan kemerdekaan. Dengan demikian terbentuknya Budi Oetomo menjadi pertanda kebangkitan bangsa dari kebodohan menuju era yang lebih baik dengan menggunakan "kendaraan" baru yang disebut pendidikan.

Kembali ke masa sekarang, momentum 100 tahun kebangkitan nasional saat ini menjadi perhatian utama hampir dari semua media. Berbagai program, acara, liputan dan artikel menyuarakan semangat nasionalisme terkait dengan 100 tahunya kebangkitan nasional. Permasalahan ekonomi seperti kemiskinan sepertinya tidak pernah mau lepas dari kehidupan bangsa ini. Ironisnya, pemerintah pada akhir Mei ini berencana untuk menaikan harga BBM yang sungguh menyakitkan bagi warga negara indonesia yang mayoritas berada pada kelas ekonomi menengah-bawah.

Penulis sangat meyakini bahwa berbagai keterpurukan yang terjadi baik pada masa lalu dan masa saat ini adalah lemahnya sistem pendidikan yang dimiliki oleh bangsa ini. Inti permasalahan juga tidak pernah beranjak dari birokrasi dan KKN yang dilakukan oleh oknum pemerintah. Dana BOS yang ditujukan kepada warga yang tidak mampu masih belum menampakan hasil yang baik. Penghargaan terhadap profesi guru dinilai masih sangat rendah. Bagaimana guru dapat memberikan yang terbaik untuk muridnya apabila ia masih dihadapkan permasalahan untuk dapat mencari sesuap nasi.

Sudah seharusnya momentum yang baik ini tidak hanya berupa seremoni panjang yang kita lakukan disetiap tahun tanpa menghasilkan sesuatu. Dengan semanagat nasionalisme yang kerap dilantangkan pada akhir-akhir ini seharusnya tidak begitu saja padam tanpa menghasilkan sesuatu bagi bangsa ini. Penulis percaya bangsa ini memiliki generasi muda yang cerdas dan kreatif dalam menghasilkan sebuah karya terutama di bidang pendidikan.
Maju Generasi Muda, Maju Indonesia-KU :)



Sunday, May 11, 2008

Creative Communications Builder


Memang hingga saat ini saya belum menyandang gelar sarjana komunikasi, namun pengalaman di dunia praktis beberapa bulan ini memberikan suatu framework tentang bagaimana proses kreatif menjadi sebuah nilai penting di dalam praktek komunikasi. Adalah Peter Fisk, penulis dari buku Marketing Genius yang menjelaskan 2 ciri dari seorang marketer yang genius. Ciri pertama adalah faktor Intelegensi, dimana pemikiran yang sistematis dan konseptual memberikan seorang marketer suatu kerangka kerja bagaimana dalam menganalisa sebuah riset pasar / brief dari client. Ciri kedua adalah kreatifitas, yang menciptakan berbagai macam kampanye PR / Marketing Communication yang bermacam-macam. Proses kreatif bisa dilakukan oleh perseorangan ataupun dengan kelompok. Biasanya cara menemukan suatu ide kreatif dengan melakukan Brainstorming.
Aktifitas yang menarik dilakukan bagi saya. Sebuah ide diciptakan dari pikiran yang fresh, yang tidak dipungkiri dipengaruhi oleh seberapa luas wawasan dari individu yang mencari ide kreatif tersebut. Berbagai macam agency komunikasi bermunculan, nampaknya industri ini makin berkembang seiring meningkatnya teknologi informasi dan komunikasi. Baik itu agency Marketing, Advertising ataupun PR, sangat lah membutuhkan ide-ide segar yang 'Menjual'. Menjual disini berarti tidak hanya kreatif, tapi juga bisa diimplementasikan dengan baik pada saat eksekusinya. Sungguh pengalaman yang sangat menantang bagi siapa pun yang bekerja di agency. Pada akhirnya, saya menarik kesimpulan bahwa sebuah agency komunikasi haruslah menjadi sebuah komunitas/kelompok pencipta komunikasi yang kreatif.

Saturday, April 12, 2008

Let's Make It Happen!


Judul diatas adalah tema Training yang diselenggarakan oleh perusahaan ditempat saya bekerja kemarin. Bertempat di Grand Flora Kemang, acara training difasilitasi oleh Ibu Maria Sidabutar, seorang praktisi PR yang memiliki banyak sekali pengalaman di industri PR, baik itu di agency atau di corporate(Terima kasih banyak Bu untuk Ilmu yang telah diberikan). Acara diwali dengan berbagai teori dasar PR serta diberikan contoh praktis dalam kehidupan nyata. Sangat baik dijelaskan mengapa perusahaan membutuhkan PR untuk membantu management dalam mencapai objective dari perusahaan.

Pada sesi ke-2, kami dibentuk dalam beberapa kelompok dan diharuskan menganalisa sebuah study case yang nantinya harus membuat sebuah proposal PR sebagai tindak lanjut dari study case tersebut. Tidak diragukan lagi, aktifitas tersebut menguras konsentrasi untuk mencari sebuah PR campaign yang OutOfTheBox namun eksekusinya InsideTheBox, itu yang menjadi tantangan bagi setiap kelompok. Saya sendiri waktu itu memberanikan untuk mempresentasikan proposal yang telah dibuat oelh kelompok. cukup nerves. namun, lega setelah melakukan presentasi tersebut di depan teman-teman kantor saya untuk pertama kalinya.

Pada sesi terakhir, kita diajarkan tentang teknik Writing of PR, sudaj jelas menulis adalah sebuah keahlian dasar yang diperlukan oleh seorang yang mendalami profesi PR. Karya tulisan dari seorang PR tentu berbeda dengan seorang jurnalis, memang ada beberapa kemiripan namun ada perbedaanya. karena seorang konsultant PR harus menulis berdsarkan keinginan klien dengan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti bagi pembacanya, sedangkan jurnalis bebas menulis dan tergantung dari karakteristik masing-masing media. Acara ditutup dengan makan malam.

Friday, March 21, 2008

Planning & Execution


Aktifitas PR / Marketing apapun itu memang harus berimbang dalam hal Planning dan Execution. 2 hal tersebut merupakan hal yang akan menciptakan sebuah intuisi yang nantinya akan menjadikan sebuah nilai tersendiri. Mungkin saja dimulai dari pengamatan lapangan akan suatu hal juga tidak terkecuali dari meja kerja anda sendiri dimana ada inspirasi yang memiliki dorongan untuk menciptakan sebuah Ide (Planning). Proses dari penciptaan ide hingga eksekusi merupakan suatu hal yang harus dibiasakan dan harus segera diimplementasikan. Don't hesitate to do it or Just Do It kalo kata Nike bilang. Namun, tidak jarang bagi diri saya pribadi hal tersebut acapkali sulit untuk dilaksanakan atau tidak semudah membalikan telapak tangan. Sebuah kebiasaan untuk mensinergikan kedua hal tersebut adalah jawabanya. Ini penting untuk membentuk karakter seseorang. Tidak ada salahnya kita bermimpi tetapi mimpi tanpa aksi hanyalah hayalan juga bagi seseorang yang tidak memiliki perencanaan tidak akan mengetahui kearah mana hidupnya akan dibawa. Harus ada Control. Tak terelakan Control disini yang akan terus menjaga kita untuk tetap melihat tujuan yang telah kita tetapkan. Control disini harus dapat menciptakan sebuah kebiasaan (habit).

Saturday, March 15, 2008

Why Regional Media?

Dalam konteks media relation, tidak dipungkiri bahwa menjalin hubungan baik dengan para journalist/wartawan adalah sebiah keharusan. Para PR manager atau Marketing manager pasti telah menyadari betapa pentingnya hal ini, namun seringkali para pebisnis hanya memusatkan terhadap media nasional yang dianggap memiliki coverage luas dan telah memiliki awareness tinggi seperti halnya Kompas, Media Indonesia, Bisnis Indonesia dan banyak lainya. Kini, media regional telah begitu pesat berkembang, tidak hanya dari sisi koran tetapi juga dari stasiun TV lokal dan situs daerah yang kini banyak bermunculan seperti di dalam http://www.garut.go.id yang secara aktif teruz memberikan berita terbaru dari kota garut dan banyak lagi dareh lainya.

Peran media ini nantinya akan menjadi informasi bagi para investor luar dan tentunya nanti akan membantu sektor UKM sebagai tulang punggung sektor perekonomian daerah, hal ini pula yang akan membantu tersebarnya pembangunan di daerah-daerah sehingga pembangunan tidak hanya terpusat di kota Jakarta sehingga diharapkan penyebaran penduduk dapat terjadi. Dapat disimpulkan bahwa peran dari reginal media juga memiliki kontribusi nyata pada pendapatan negara, dan ini merupakan sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan oleh para pemilik bisnis para product manager yang ingin memperluas Market Share ke daerah-daerah yang dianggap berpotensi.

Namun, perlu juga diperhatikan bahwa karakteristik media regional dengan media nasional memiliki perbedaan. Media regional lebih memusatkan terhadap niche market tertentu tidak meluas seperti media nasional walaupun sama-sama sebuah media massa. Kadang media regional banyak menggunakan daerah yang bersanggkutan, hal inilah yang perlu diperhatikan ketika ingin membuat suatu pemberitaan agar sebaiknya kata-kata yang digunakan lebih mudah dicerna oleh audiensi daerah, tidak harus jauh berbeda tapi harus mendapat perhatian lebih.

Saturday, February 23, 2008

My First Job


Adalah Account Executive yang merupakan jabatan pertama saya pegang disebuah perusahaan PR Consultant. Bertempat di gedung S.Widjojo kawasan bisnis strategis Senayan Sudirman memberikan pengalaman tersendiri bagi saya. Berbagai kesibukan kantor yang Multi-Tasking menuntut kesiapan khusus untuk mengatur berbagai macam pekerjaan yang harus diselesaikan dengan waktu singkat. Melakukan Media Monitoring adalah salah satu contoh, dimana mengharuskan saya untuk membaca segala publisitas / media coverage di berbagai media yang berhubungan dengan client saya. Pekerjaan Paper Work seperti menerjemahkan berbagai dokumen dari english- indonesia / indonesia - english menjadi kebiasaan rutin dalam kantor. Pekerjaan ini menuntu konsentrasi penuh dan kebutuhan untuk belajar lebih demi memberikan kontribusi yang terbaik untuk perusahaan. Diakui memang banyak error yang dilakukan tapi saya anggap itu sebagai sebuah proses untuk mendapatkan pengalaman kerja.

Friday, February 15, 2008

Reporter without Editor


Dalam rubrik Citizen Journalism, saya akan mengangkat banyak hal yang berkaitan tentang dunia Blogger, siapa saja kah mereka ? Apa yang mereka tulis ? dan bagaimana mereka mempengaruhi dunia ? . Kemajuan teknologi, khususnya internet, memungkinkan bagi mereka yang tidak mengambil pendidikan professional jurnalis (termasuk saya) untuk menuangkan pikiran mereka kedalam sebuah tulisan, gambar dan tak terkecuali sebuah video di dalam Blog mereka. Kegiatan jurnalis yang diawali dengan merekam sebuah kejadian (reporting) sebuah kejadian menjadi semakin menarik karena apa yang kita liput dapat langsung ditampilkan / tidak melalui proses editing yang kadang dapat merubah isi dari liputan yang kita buat.

Tema dari sebuah Blog ditentukan oleh seorang Blogger itu sendiri. Tema dapat berupa kehidupan Politik, jenis sebuah bisnis / industri, berkaitan dengan sebuah keahlian tertentu hingga hanya sebagai mediasi curhat dari penulis itu sendiri untuk mengeluarkan unek-unek. Apapun temanya, Blog kini telah merubah gaya berkomunikasi di kehidupan sekarang. keahlian dalam bidang literasi menjadi sangat penting, menurut saya inilah dasar pondasi untuk mewujudkan masyarakat informasi.

Bagaimana dengan anda ?
sudahkah anda mempunyai sebuah Blog ?