Monday, May 19, 2008

100 tahun Kebangkitan Nasional : Hakiki atau Seremoni

Lahirnya Budi Oetomo merupakan tonggak sejarah dimana bangsa kita ketika itu memiliki visi untuk bangkit dari keterpurukan karena selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa Belanda. Budi Oetomo yang berawal dari diskusi-diskusi mahasiswa, merupakan tahap transisi perjuangan bangsa indonesia dari perjuangan fisik ke perjuangan diplomasi. Bangsa kita pada waktu itu sadar bahwa perjuangan fisik yang menggunakan otot seperti perang tidak menghasilkan kemerdekaan. Dengan demikian terbentuknya Budi Oetomo menjadi pertanda kebangkitan bangsa dari kebodohan menuju era yang lebih baik dengan menggunakan "kendaraan" baru yang disebut pendidikan.

Kembali ke masa sekarang, momentum 100 tahun kebangkitan nasional saat ini menjadi perhatian utama hampir dari semua media. Berbagai program, acara, liputan dan artikel menyuarakan semangat nasionalisme terkait dengan 100 tahunya kebangkitan nasional. Permasalahan ekonomi seperti kemiskinan sepertinya tidak pernah mau lepas dari kehidupan bangsa ini. Ironisnya, pemerintah pada akhir Mei ini berencana untuk menaikan harga BBM yang sungguh menyakitkan bagi warga negara indonesia yang mayoritas berada pada kelas ekonomi menengah-bawah.

Penulis sangat meyakini bahwa berbagai keterpurukan yang terjadi baik pada masa lalu dan masa saat ini adalah lemahnya sistem pendidikan yang dimiliki oleh bangsa ini. Inti permasalahan juga tidak pernah beranjak dari birokrasi dan KKN yang dilakukan oleh oknum pemerintah. Dana BOS yang ditujukan kepada warga yang tidak mampu masih belum menampakan hasil yang baik. Penghargaan terhadap profesi guru dinilai masih sangat rendah. Bagaimana guru dapat memberikan yang terbaik untuk muridnya apabila ia masih dihadapkan permasalahan untuk dapat mencari sesuap nasi.

Sudah seharusnya momentum yang baik ini tidak hanya berupa seremoni panjang yang kita lakukan disetiap tahun tanpa menghasilkan sesuatu. Dengan semanagat nasionalisme yang kerap dilantangkan pada akhir-akhir ini seharusnya tidak begitu saja padam tanpa menghasilkan sesuatu bagi bangsa ini. Penulis percaya bangsa ini memiliki generasi muda yang cerdas dan kreatif dalam menghasilkan sebuah karya terutama di bidang pendidikan.
Maju Generasi Muda, Maju Indonesia-KU :)



Sunday, May 11, 2008

Creative Communications Builder


Memang hingga saat ini saya belum menyandang gelar sarjana komunikasi, namun pengalaman di dunia praktis beberapa bulan ini memberikan suatu framework tentang bagaimana proses kreatif menjadi sebuah nilai penting di dalam praktek komunikasi. Adalah Peter Fisk, penulis dari buku Marketing Genius yang menjelaskan 2 ciri dari seorang marketer yang genius. Ciri pertama adalah faktor Intelegensi, dimana pemikiran yang sistematis dan konseptual memberikan seorang marketer suatu kerangka kerja bagaimana dalam menganalisa sebuah riset pasar / brief dari client. Ciri kedua adalah kreatifitas, yang menciptakan berbagai macam kampanye PR / Marketing Communication yang bermacam-macam. Proses kreatif bisa dilakukan oleh perseorangan ataupun dengan kelompok. Biasanya cara menemukan suatu ide kreatif dengan melakukan Brainstorming.
Aktifitas yang menarik dilakukan bagi saya. Sebuah ide diciptakan dari pikiran yang fresh, yang tidak dipungkiri dipengaruhi oleh seberapa luas wawasan dari individu yang mencari ide kreatif tersebut. Berbagai macam agency komunikasi bermunculan, nampaknya industri ini makin berkembang seiring meningkatnya teknologi informasi dan komunikasi. Baik itu agency Marketing, Advertising ataupun PR, sangat lah membutuhkan ide-ide segar yang 'Menjual'. Menjual disini berarti tidak hanya kreatif, tapi juga bisa diimplementasikan dengan baik pada saat eksekusinya. Sungguh pengalaman yang sangat menantang bagi siapa pun yang bekerja di agency. Pada akhirnya, saya menarik kesimpulan bahwa sebuah agency komunikasi haruslah menjadi sebuah komunitas/kelompok pencipta komunikasi yang kreatif.