Friday, August 22, 2008

Iklan Politik, Menarik atau Menyebalkan?


Memang bahasan kampanye Politik paling seru akhir-akhir ini, ada yang jor-joran menggunakan Iklan di media massa baik di TV maupun di harian berita nasional karena modalny besar ada juga yang seadany dengan mengunakan poster, banner, sticker dan lainya. Tapi apapun Toolsnya seharusnya yang paling dipikirkan adalah measurement itu sendiri, apakah dengan iklan yang secara terus-terusan nongol dan menyentuh hati benar-benar bisa merubah persepsi masyarakat itu sendiri. Saya sendiri meragukan.

Coba deh liat Sloganya Tje Fuk " Memberi Bukti, Bukan Janji", sepertiny bisa menjadi bahan pertimbangan untuk para politisi dalam aktifitas kampanye politiknya. Daripada "memaksakan" diri sering-sering nongol di tv dengan membangun image "Pilih lah saya, karena saya hebat" yang menggangu acara tv, lebih baik terjun langsung ke masyarakat memberikan program nyata dengan budgetnya tersebut. Toh, hal tersebut bisa saja menghasilkan effect word of mouth yang berarti kampanye juga bagi politisi tersebut.

Bagi saya semenarik apapun sebuah iklan politik tetap saja tidak bisa merubah persepsi saya pada seorang tokoh, kecuali ia memang benar-benar telah berjasa melakukan prestasi terhadap bangsa ini. Saya butuh bukti bukan janji ataupun Slogan. Politisi harus bertindak bukan hanya menyemangati untuk bertindak.

Tuesday, August 19, 2008

Bandung, 16 Agustus 2008

Tepat hari ini 63 tahun yang lalu bisa jadi saat terpenting bagi tanah air tercinta. Golongan muda mendesak para golongan tua (Soekarno-Hatta) untuk memproklamirkan kemerdekaan. Mungkin memang sudah kodratny golongan tua memiliki perbedaan dengan apa yang dipikirkan oleh golongan muda. Ini menarik apabila dihubungkan dengan isu golongan muda yang dijagokan untuk menjadi Presiden pada pemilu 2009 nanti. Sejarah telah membuktikan bahwa golongan muda sebagai sebuah Change Agent bagi negara ini, coba apa jadinya apabila peristiwa Rengasdengklok tidak pernah terjadi. Akankah kita dapat menikmati nikmat kemerdekaan yang kita rasakan saat ini? Tanpa mengecilkan para golongan tua, seharusny golongan muda diberikan peluang dan wadah yang besar di pemerintahan kita.

Restrukturisasi di badan pemerintahan dengan mengandalkan golongan muda bukan tidak mungkin akan menghasilkan sesuatu yang signifikan bagi bangsa ini. Sungguh ini tidak melulu membanggakan golongan muda namun lebih kepada melihat realita dimana yang muda selalu di pandang sebelah mata. Saya memiliki optimisme bahwa sinergi yang telah membawa kesuksesan pada masa lampau dapat juga dihasilkan pada masa sekarang. Siapa pun Presiden Indonesia pada saat mendatang hendaknya kabinetnya terdiri atas golongan tu dan muda yang dapat bekerjasama demi keutuhan bangsa ini. Selamat Ulang Tahun Indonesiaku yang ke 63.

Tuesday, August 5, 2008

The Effectiveness of Artists for Political Campaign

Fenomena artis alih profesi menjadi politisi di republik ini mengundang berbagai pertanyaan. Apakah artis mampu memimpin suatu badan negara dengan baik? atau apakah hanya menjual nama saja untuk menarik sejumlah voter demi kepentingan partai?. Ada bantahan juga dari pihak artist bahwa mereka sebagai pekerja seni juga memiliki kapabilitas yang cukup untuk menjadi pemimpin. Beberapa artis yang mencalonkan diri sebagai politisi ada yang gagal dan ada yang pula yang sukses seperti Dede Yusuf. Kampanye politik sebagai bentuk aktifitas komunikasi politik kini menjadi kian beragam dari sisi hal endorsment (artis) dan Media seperti penggunaan website/blog.

Adapun 5 pendekatan komunikasi politik yang penting dilakukan menurut James Chesebro :
  1. Machiavellian - ie power relationships.
  2. Iconic - symbols very important.
  3. Ritualistic - Redundant and superficial nature of political acts - manipulation of symbols.
  4. Confirmation - political aspects looked at as people we endorse.
  5. Dramatistic - politics is symbolically constructed.
Artist dapat termasuk dalam kategori kedua yaitu Iconic. Artis sebagai public figure tentunya memiliki awareness yang tinggi di masyarakat sehingga pantas menjadi suatu ikon penting dalam tubuh partai guna memnagkan kampanye. Saya sendiri setuju saja dengan kehadiran artis meramaikan di ranah politik karena kalo dibilang artis tidak memiliki pengetahuan yang cukup toh mengapa orang-orang sebelumnya yang telah diberikan kesempatan memimpin juga tidak memberikan perubahan yang cukup berarti. Artis yang saat ini sedang semangat di dunia politik boleh-boleh saja mencalonkan diri asalkan mau dibarengi oleh usaha keras untuk belajar dan yang terpenting mau "Meninggalkan" segalal gemerlap dunia keartisan, Apakah Sanggup untuk itu?? karena setelah menjadi pemimpin, para artis tersebut akan memiliki tanggung jawab besar untuk melayani rakyat dan menjadi teladan bagi rakyat.